
Raksasa teknologi Amazon mencatatkan pergerakan signifikan di bursa saham Amerika Serikat atau wall street setelah merilis laporan keuangan kuartal keempat. Saham Amazon terjun bebas lebih dari 10% dalam perdagangan setelah jam kerja pada Kamis waktu setempat.
Sentimen negatif investor dipicu oleh proyeksi pengeluaran perusahaan yang membengkak demi mengejar ketertinggalan di sektor Kecerdasan Buatan (AI), serta perolehan laba yang sedikit di bawah ekspektasi pasar. Demikian mengutip CNBC, Jumat, (6/2/2026).
Laba Meleset, Pendapatan Melampaui Target
Berdasarkan data LSEG, kinerja Amazon pada kuartal IV menunjukkan hasil yang beragam. Berikut rinciannya:
Laba per Saham (EPS): USD 1,95 (Di bawah ekspektasi analis sebesar USD 1,97).
Pendapatan: USD 213,39 miliar (Melampaui perkiraan USD 211,33 miliar).
Meski pendapatan secara keseluruhan tumbuh positif, Wall Street tampak lebih menyoroti rencana belanja modal (capex) perusahaan yang dinilai sangat agresif untuk 2026.
USD 200 Miliar demi AI
CEO Amazon, Andy Jassy, mengumumkan perusahaan berencana menggelontorkan dana hingga USD 200 miliar atau Rp 3.376 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah 16.880) untuk belanja modal pada 2026. Angka ini jauh di atas perkiraan analis FactSet yang mematok angka USD 146,6 miliar.
“Dengan permintaan yang sangat kuat untuk peluang penting seperti AI, chip, robotika, hingga satelit, kami memperkirakan akan menginvestasikan sekitar USD 200 miliar pada tahun 2026,” ujar Jassy dalam pernyataan resminya
Jassy menjelaskan bahwa sebagian besar dana tersebut akan dialokasikan untuk memperkuat Amazon Web Services (AWS), termasuk pembangunan pusat data AI raksasa ‘Project Rainier’ yang bekerja sama dengan Anthropic.
Persaingan Sengit dengan Google dan Microsoft

Langkah agresif Amazon ini dilakukan di tengah persaingan sengit pasar cloud infrastructure. Meski AWS mencatatkan pertumbuhan 24 persen tercepat dalam 13 kuartal terakhir. Amazon tetap berada di bawah tekanan kompetitor.
Sebagai perbandingan, pendapatan Microsoft Azure melonjak 39 persen, sementara Google Cloud tumbuh pesat hingga 48 persen. Tak hanya Amazon, raksasa teknologi lain seperti Alphabet dan Meta juga telah mengumumkan rencana belanja puluhan miliar dolar demi menguasai teknologi AI.
Efisiensi di Tengah Ekspansi
Di sisi lain, Amazon terus melakukan langkah efisiensi tenaga kerja. Pekan lalu, perusahaan mengumumkan PHK terhadap 16.000 karyawan kantor pusat, menyusul pemangkasan 14.000 staf pada Oktober sebelumnya.
Hingga Desember 2025, total karyawan Amazon mencapai 1,57 juta di seluruh dunia, yang mayoritas didominasi oleh tenaga kerja di bagian logistik dan gudang.
Wall Street Tertekan

Sebelumnya, bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street anjlok pada perdagangan saham Kamis, 5 Februari 2026. Koreksi wall street terjadi seiring investor mengambil sikap menghindari risiko menyebabkan perdagangan sektor saham teknologi dan bitcoin tersungkur.
Mengutip CNBC, Jumat pekan ini, indeks Dow Jones anjlok 592,58 poin atau 1,2% menjadi 48.908,72. Indeks S&P 500 terpangkas 1,23% ke posisi 6.798,40 dan berada di zona negative. Indeks Nasdaq melemah 1,59% dan menetap ke posisi 22.540,59.
Dalam titik terendah, indeks Dow Jones turun hampir 700 poin atau sekitar 1,4%. Indeks S&P 500 dan Nasdaq masing-masing melemah 1,5% dan 1,9%.
Alphabet memproyeksikan peningkatan tajam dalam pengeluaran kecerdasan buatan yang membuat sejumlah investor khawatir. Hal ini di tengah kekhawatiran perkiraan pengeluaran modal hingga USD 185 miliar pada 2026. Saham Alphabet susut 0,5%.
Selain itu, saham Broadcom naik hampir 1% setelah berita tentang rencana pengeluaran Alphabet, menawarkan sedikit harapan bagi perdagangan kecerdasan buatan.
“Fakta bahwa beberapa perusahaan ini merilis dan mengumumkan pengeluaran modal tambahan, dan jumlahnya sangat besar saat ini , kami sebenarnya melihatnya sebagai tanda positif bagi kesehatan pasar secara umum, karena ini lebih menunjukkan bahwa pasar sedang melakukan penilaian yang cermat daripada sekadar euforia yang tidak rasional,” kata Direktur Investasi di Modern Wealth Management, Stephen Tuckwood.
Bersama dengan Alphabet, Qualcomm juga berada di bawah tekanan, merosot lebih dari 8% setelah mengeluarkan perkiraan yang lebih lemah dari yang diharapkan karena kekurangan memori global.
